Ana səhifə

Perilaku Buruk dalam Berbahasa Oleh s sahala Tua Saragih


Yüklə 11.39 Kb.
tarix09.06.2016
ölçüsü11.39 Kb.
Perilaku Buruk dalam Berbahasa

Oleh S Sahala Tua Saragih

Bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa lama ini ternyata masih tetap aktual dan relevan dengan kondisi kita sekarang. Perilaku kita dalam berbahasa sehari-hari, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah, merupakan penggambaran situasi dan kondisi bangsa atau negara dan daerah-daerah kita kini.

Berbagai krisis yang terjadi hampir sepuluh tahun ini tergambar jelas pada perilaku kita dalam berbahasa. Ketidakpatuhan pada hukum resmi atau anarkisme, main hakim sendiri, bertindak seenaknya, malas, boros, tak kreatif dan inovatif, serta antilogika merupakan masalah sangat besar dan serius yang kita hadapi hingga sekarang. Kenyataan ini sangat jelas tergambar dalam perilaku kita dalam berbahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

Dengarlah nama-nama acara-mereka menyebutnya program acara-yang mengudara di stasiun-stasiun radio dan televisi siaran di kota megapolitan, kota-kota metropolitan, bahkan di kota-kota kecil sekalipun. Simaklah bahasa penyiar atau pembawa acaranya-mereka memakai istilah presenter. Bacalah nama-nama rubrik di media massa cetak yang terbit di mana pun.

Dengan mudah kita membaca berbagai rubrik yang nginggris. Perhatikanlah judul buku-buku fiksi dan nirfiksi karya asli orang- orang Indonesia yang dijual di toko-toko buku, pasar buku, atau kaki lima. Isinya 99 atau 100 persen berbahasa Indonesia, tetapi judulnya nginggris. Simaklah dosen dan guru, terutama yang masih muda, yang sedang mengajar di depan kelas. Mereka bangga menggunakan bahasa gaul kaum muda yang nginggris. Dengarkan pula petinggi atau pejabat negara yang sedang berpidato atau berbicara kepada wartawan, atau ketika tampil dalam acara bincang-bincang-mereka menyebutnya talkshow-di berbagai stasiun televisi.

Simaklah bahasa wartawan-mereka menyebut diri reporter-kita, terutama yang muda-muda. Mereka dengan bangga menggunakan bahasa gaul dan nginggris. Dengarkanlah dengan cermat ucapan-ucapan anggota DPR dan DPRD yang sedang bekerja-bersidang atau berdebat-yang tampaknya sedang memperjuangkan nasib rakyat kecil. Mereka merasa terpelajar dan hebat karena bisa berbahasa "gado-gado" alias nginggris.



Bahasa buruk

Tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk semua pihak yang kita sebut. Simak-lah contoh-contoh berikut, "gue banget", "gaya bicaranya dia Soeharto banget", "thank you banget, ya!", "please, deh", "jangan ngomongin aib pacarnya dia", "biaya maintenance-nya sangat mahal banget", "ngapain kita repot-repot, outsourcing-kan aja", "ini benar-benar big bang kita tahun ini", "gua teh lagi nggak fit, tau?".

Realitas perilaku berbahasa buruk ini telah melanda orang Indonesia, tidak hanya yang hidup di Pulau Jawa, tetapi di hampir semua kota di Tanah Air. Bila Anda sering menginap di berbagai kota, dengarkanlah radio-radio anak muda. Tonton juga tayangan stasiun- stasiun televisi daerah setempat. Dengan cepat Anda menyimpulkan, bahasa mereka sama dengan bahasa penyiar radio atau televisi Jakarta.

Penyeragaman bahasa nasional yang "sok nginggris-Betawi" tersebut pastilah berkat "ajaran" (terpaan) stasiun-stasiun televisi nasional yang sangat intensif sejak awal tahun 1990-an, di samping andil media massa cetak.

Mulut munsyi dan pakar linguistik kita sudah lama berbuih-buih ketika mengkritik perilaku berbahasa buruk banyak orang Indonesia tersebut, baik melalui media massa cetak dan elektronik maupun melalui forum-forum ilmiah dan buku-buku. Ada dua tokoh bahasa (munsyi), meskipun bukan doktor lingusitik, yang sangat sering mengungkapkan kegeraman atas perilaku buruk berbahasa orang-orang Indonesia, yakni Prof Dr Sudjoko yang meninggal beberapa bulan lalu dan Yopie Tambayong alias Remy Sylado alias Alif Danya Munsyi alias Dova Zila.

Namun, anjing menggonggong, khafilah tetap berlalu. Gejala apa ini? Perilaku buruk dalam berbahasa ini tampaknya menunjukkan penyakit bangsa kita yang disebut xeno mania alias tergila-gila terhadap asing.



Hukum D-M

Sampai detik ini, pemerintah, munsyi, dan ahli linguistik belum pernah mengubah hukum diterangkan-menerangkan (D-M) menjadi hukum menerangkan-diterangkan (M-D). Akan tetapi, lihatlah nama-nama stasiun televisi dan radio di Tanah Air, baik yang berlingkup nasional maupun daerah. Tanpa merasa bersalah sedikit pun mereka memberi nama stasiun televisi menggunakan hukum M-D.

Penggunaan hukum M-D yang lazim diterapkan dalam bahasa Inggris ini juga dengan mudah kita saksikan pada nama-nama radio lokal dan toko atau usaha.

Simpulan kita, semakin lama semakin banyak orang Indonesia yang berbahasa Indonesia dengan seenaknya, tak mengindahkan aturan yang berlaku resmi. Kata ahli bahasa hukum, ini merupakan perilaku berbahasa yang anarkistis. Berbagai aturan bagus dalam berbahasa nasional mereka abaikan saja karena aturan itu dianggap menghalangi kebebasan berbahasa, atau mungkin mereka mau hidup (berbahasa) tanpa aturan.

Memang benar, bahasa menunjukkan bangsa. Untuk mengetahui dan mengurai "wajah" negara atau bangsa dan daerah-daerah kita kini, kita tak usah mendatangkan ahli dari negara-negara maju. Perilaku kita dalam berbahasa nasional dan daerah telah sangat jelas menunjukkan wajah kita. Salah satu ciri buruk yang sangat menonjol pastilah suka bertindak seenak sendiri atau anarkis.

Perilaku buruk kita lainnya dalam berbahasa, terutama bahasa tulisan, adalah pengabaian dan penjungkirbalikan logika, terutama logika bahasa, salah diksi, kemalasan menerjemahkan istilah-istilah asing (tak kreatif dan inovatif), salah struktur atau rancu, salah ejaan, salah tanda baca, salah kaprah, dan lain-lain.

Untuk mengobati "penyakit" berbahasa yang sudah sangat parah ini, kini perlu ada usaha bersama semua pemangku kepentingan bahasa Indonesia untuk kembali menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa atau orang Indonesia dan sebagai suku bangsa tertentu. Warga negara yang sangat bangga sebagai orang Indonesia dan suku bangsa tertentu tentu (seharusnya) juga mencintai bahasa nasional dan daerahnya sendiri.

Untuk mendukung usaha serius ini, pemerintah dan DPR perlu segera membuat undang-undang tentang kebahasaan. Ini sebenarnya telah lama direncanakan, tetapi tak kunjung diwujudkan. Banyak bangsa lain, termasuk Filipina dan India, merasa iri dan sangat terkagum-kagum terhadap bangsa kita karena memiliki ratusan bahasa daerah, tetapi sepakat menggunakan satu bahasa persatuan.



Bahasa nasional ini merupakan salah satu kebanggaan dan jati diri asli bangsa kita. Akan tetapi, mengapa justru kita sendiri tak bangga memiliki dan menggunakan bahasa daerah dan nasional kita dengan baik, benar, dan indah?

S SAHALA TUA SARAGIH Dosen Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/05/Jabar/8262.htm


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©kagiz.org 2016
rəhbərliyinə müraciət