Ana səhifə

B ab II tinjauan pustaka 1 Pengertian Komunikasi


Yüklə 95.59 Kb.
tarix17.06.2016
ölçüsü95.59 Kb.




B

AB II



TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Komunikasi

Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebelum melangkah secara luas tentang komunikasi massa perlu diketahui arti komunikasi itu sendiri secara estimologi dikatakan bahwa Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. (Effendy, 2002:9). Sedangkan secara terminologi yaitu penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda. Komunikasi disebut efektif bila makna yang tercipta relatif sesuai dengan yang diinginkan komunikator. (Mulyana,1999:49)

Ada berbagai macam definisi atau pengertian dari para ahli mengenai komunikasi ini. “Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna” (Effendy, 2002:9) proses komunikasi melibatkan dua orang atau lebih, baik secara langsung atau bertatap muka, maupun dengan menggunakan media.

M
29


enurut Carl I. Hovland, pengertian komunikasi adalah “ Upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap” (Effendy, 2002:10). Sementara menurut Stewart L. Lubis dan Sylvia Moss “komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih”. (Mulyana, 2001:69). Untuk lebih jelasnya, para ahli memberikan batasan-batasan dan pengertian dari pengertian komunikasi, yaitu:

  1. James A.F Stoner, dalam bukunya yang berjudul : Manajemen , menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.

  2. John R. Schemerhorn cs. Dalam bukunya yang berjudul : Managing Organizational Behaviour, menyatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai proses antara pribadi dalam mengirimkan dan menerima simbol-simbol yang berati bagi kepentingan mereka.

  3. William F. Glueck, dalam bukunya yang berjudul : Manajemen menyatakan bahwa komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian utama, yaitu:

a. Interpersonal Communications, komunikasi antar pribadi yaitu proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu kelompok kecil manusia.

b.Organizational Comunications, yaitu dimana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian informasi kepada orang banyak didalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan (Widjaja, 1997:8).
Dari batasan pengertian tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa hampir semua ahli menyatakan bahwa komunikasi adalah proses terbentuknya suatu kegiatan antara dua orang atau lebih, dimana didalamnya terdapat seorang (komunikator) yang memiliki, ide dan informasi untuk disampaikan kepada orang lain (komunikan), sehingga terciptanya suatu stimulus atau respon yang dapat menghasilkan keputusan dan tindakan yang berarti bagi yang membutuhkannya.
2.2 Tinjauan Komunikasi Massa

Setiap bentuk komunikasi massa memiliki ciri tersendiri. Istilah komunikasi massa sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat dan kebanyakan orang berpendapat bahwa komunikasi massa adalah sesuatu yang berhubungan dengan surat kabar, radio, televisi, atau film. Banyak pakar komunikasi yang mengartikan komunikasi massa dari berbagai sudut pandang, Onong Uchjana Effendy mengartikan komunikasi massa sebagai komunikasi melalui media massa modern, dan media massa ini adalah surat kabar, radio, film, serta televisi. Karena media itulah yang lazim digunakan dalam kegiatan komunikasi massa. Dengan kalimat yang lugas Bittner mengatakan, “Mass Communication Is Messages Communicated Trough A Mass Medium To A Large Number Of People”(komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang) (Rahkmat, 1991 : 188).


2.2.1 Karakteristik Komunikasi Massa

Dalam komunikasi massa terdapat juga ciri-ciri khusus yang, seperti yang dikatakan oleh Severin dan Tankard Jr, dikaitkan dengan pendapat Devito, komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus yang disebabkan oleh sifat-sifat komponennya. Ciri-cirinya sebagai berikut :



  1. Komunikasi massa berlangsung satu arah

Ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator, dengan kata lain perkataan komunikator tidak mengetahui tanggapan para pembacanya terhadap pesan atau berita yang disiarkan.


  1. Komunikasi pada komunikasi massa melembaga

Yakni suatu institusi atau organisasi, oleh karena itu komunikatornya melembaga, mempunyai lebih banyak kebebasan.


  1. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum

Media ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum, tidak ditujukan kepada sekelompok orang tertentu. Media massa tidak akan menyiarkan suatu pesan yang tidak menyangkut kepentingan umum.


  1. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan

Ciri ini merupakan yang paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.


  1. Komunikasi massa bersifat heterogen

Komunikasi adalah khalayak yang merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat heterogen dalam keberadaannya secara terpecah-pecah, dimana satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal, jenis kelaminnya, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman hidup, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita dan sebagainya (Effendy, 1984 : 23-24).
Berdasarkan ciri-ciri di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi pada komunikasi massa hanya berlangsung satu arah, melembaga, pesan menyangkut kepentingan umum dengan saluranna berupa media massa baik itu surat kabar, maupun elektronik pada saat yang bersamaan, dengan sasaran khalayak yang heterogen. Hanya dengan menggunakan media massa, proses komunikasi massa dapat dilakukan.
2.3 Tinjauan Tentang Media Massa

Media massa (mass media) singkatan dari media komunikasi massa dan merupakan channel of mass yaitu saluran, alat atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, karakteristik media massa itu meliputi :



  1. Publisitas, disebarluaskan kepada khalayak.

  2. Universalitas, kesannya bersifat umum.

  3. Perioditas, tetap atau berkala.

  4. Kontinuitas, berkesinambungan.

  5. Aktualitas, berisi hal-hal baru (Romly, 2002:5-6).

Isi media massa secara garis besar terbagi atas tiga kategori : berita, opini, feature. Karena pengaruhnya terhadap massa (dapat membentuk opini publik), media massa disebut “kekuatan keempat” (The Fourth Estate) setelah lembaga eksekutif, legistatif, yudikatif. Bahkan karena idealisme dengan fungsi sosial kontrolnya media massa disebut-sebut “musuh alami” penguasa. (Romly, 2002 : 5).

Media yang termasuk ke dalam kategori media massa adalah surat kabar, majalah, radio, TV, dan film. Kelima media tersebut dinamakan “The Big Five Of Mass Media” (lima besar media massa), media massa sendiri terbagi dua macam, media massa cetak (printed media), dan media massa elektronik (electronic media). Yang termasuk media massa elektronik adalah radio, TV, film (movie), termasuk CD. Sedangkan media massa cetak dari segi formatnya dibagi menjadi enam yaitu :


  1. Koran atau surat kabar (ukuran kertas broadsheet atau ½ plano)

  2. Tabloid (½ broadsheet)

  3. Majalah (½ tabloid atau kertas ukuran polio atau kuarto)

  4. Buku (½ majalah)

  5. Newsletter (polio atau kuarto, jumlah halaman lazimnya 4 – 8 halaman)

  6. Buletin (½ majalah jumlah halaman lazimnya 4 – 8) (Romly, 2002:6).

Secara garis besar media massa merupakan kekuatan keempat (The Fourth Estate) dalam menjalankan kontrol sosial terhadap masyarakat setelah lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Media massa terbagi dua, yakni: media cetak dan elektronik. Media cetak meliputi, surat kabar, majalah, tabloid, buku, newsletter, dan buletin, sedangkan media elektronik meliputi: radio, televisi, internet,dan film.


2.4 Pengertian Jurnalistik

Secara harafiah jurnalitik (jurnalistic) artinya kewartawanan atau hal ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau jour dalam bahasa Prancis yang berarti hari (day) atau catatan harian (diary). Dalam bahasa Belanda, Journalistiek artinya penyiaran catatan harian.

Menurut Sudirman Tebba dalam buku “Jurnalistik Baru”, mengatakan :

“Jurnalitik adalah kegiatan mengumpulkan berita, mengolahnya sampai menyebarluaskannya kepada khalayak”(Tebba, 2005:9).


Sedangkan menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku ”Jurnalitik Terapan, Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan”, secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yakni sebagai proses, teknik, dan ilmu.

  • Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa

  • Sebagai teknik, jurnalistik adalah keahlian (expertise) atau keterampilan menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan (reportase) dan wawancara

  • Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri (Romli, 2002:2).

Sebagai ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.



2.5 Tinjauan Tentang Surat Kabar

2.5.1 Surat Kabar Sebagai Salah Satu Jenis Media Massa

Surat kabar di Indonesia hadir dalam berbagai bentuk yang jenisnya bergantung pada frekuensi terbit, bentuk, kelas ekonomi pembaca, peredarannya serta penekanan isinya.

Kebanyakan surat kabar mengandalkan hidupnya dari iklan, bahkan kenaikan harga kertas koran sebagai bahan baku utama surat kabar sering kali tidak mengakibatkan kenaikan harga jual surat kabar per eksemplar secara proporsional. Kehadiran iklan dalam media cetak dengan kata lain telah mampu mensubsidi harga eceran surat kabar.

Selama tahun 1970-1985 diketahui ternyata lebih banyak surat kabar dan majalah gulung tikar karena tidak mendapatkan iklan, sekalipun di Indonesia budaya membaca belum terlalu memasyarakat. Surat kabar merupakan media utama yang banyak digunakan dalam periklanan di Indonesia, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti :



  1. Jangkauan distribusi surat kabar tidak dibatasi.

  2. Jangkauan media lainnya, radio dan televisi dibatasi.

  3. Harga satuan surat kabar murah dan dapat dibeli eceran (Kasali, 1995 : 100).

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, eksistensi surat kabar berganrung pada iklan. Dimana para pengiklan lebih memilih surat kabar sebagai media utama untuk mengiklankan iklan mereka.


2.5.2 Pengertian Surat Kabar

Pada awalnya surat kabar sering kali diidentikan dengan pers. Namun, karena pengertian pers sudah semakin luas, dimana televisi dan radio sekarang ini sudah dikategorikan sebagai pers juga, maka muncul pengertian pers dalam arti luas dan sempit. Dalam pengertian pers luas pers meliputi seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik. Sedangkan dalam arti sempit, pers hanya melipui media massa tercetak saja, salah satunya adalah surat kabar. Menurut Kurniawan Junaidi yang dimaksud dengan surat kabar adalah :

“Sebutan bagi penerbitan pers yang masuk dalam media massa tercetak berupa lembaran berisi tentang berita-berita, karangan-karangan dan iklan serta diterbitkan secara berkala, bisa harian, mingguan, bulanan serta diedarkan secara umum, isinya pun harus actual, juga harus bersifat universal, maksudnya pemberitaanya harus bersangkut-paut dengan manusia dari berbagai golongan dan kalangan”(Junaidi, 1991 : 105).
Definisi surat kabar menurut George Fox Mott yaitu :


  1. Suatu lembaga masyarakat yang punya fasilitas dan target masing-masing.

  2. Suatu pelayanan masyarakat atau melayani masyarakat untuk kepentingan-kepentingan informasi.

  3. Pemimpin yang bertujuan untuk memimpin pada masyarakat yang menyangkut nilai-nilai moral, etika dan lain-lain.

  4. Penghubung antara masyarakat dalam menyampaikan informasi-informasi.

  5. Penjual pengetahuan menyerap berbagai informasi dan pengetahuan lalu menyebarkannya kepada masyarakat (Junaidi, 1991 : 105).

Surat kabar di Indonesia hadir dalam berbagai bentuk yang jenisnya bergantung pada frekuensi terbit, bentuk, kelas ekonomi pembaca, peredarannya serta penekanan isinya. Sementara pengertian surat kabar menurut Onong Uchjana Effendy adalah :

“Lembaran tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa/actual, mengenal apa saja di seluruh dunia yang mengandung nilai-nilai untuk diketahui khalayak pembaca”(Effendy, 1993 : 241).
Dari beberapa pengetian di atas, dapat disimpulkan bahwa surat kabar adalah sebuah lembaga penerbitan pers berupa lembaran cetak, memuat laporan yang terjadi di masyarakat secara periodik, bersifat umum dan mengandung nilai-nilai moral, etika dan lain-lain.


2.5.3 Ciri-ciri Surat Kabar

Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai surat kabar sebagai salah satu jenis media cetak, maka kita pun harus mengetahui ciri-ciri dari surat kabar itu sendiri, yaitu :



    • Publisitas

Publisitas adalah penyebaran kepada publik atau khalayak, karena diperuntukkan khalayak, maka sifat surat kabar adalah umum.

    • Perioditas (Kontinuitas)

Adalah keteraturan terbitnya surat kabar, bisa satu kali sehari, bisa dua kali sehari bisa pula satu kali atau dua kali seminggu.

    • Universalitas

Universalitas adalah kesemestaan isinya, aneka ragam dan dari seluruh dunia.

    • Aktualitas

Aktualitas adalah kecepatan laporan tanpa mengesampingkan kebenaran berita (Effendy, 1986 : 120).
Demikianlah empat ciri surat kabar dapat dikatakan empat syarat yang harus dipenuhi surat kabar. Penelitian yang tidak mempunyai salah satu cirri saja dari keempat ciri tersebut, bukanlah surat kabar.
2.5.4 Fungsi Surat Kabar

Pada jaman modern sekarang ini, surat kabar tidak hanya mengelola berita, tetapi juga aspek-aspek lain untuk isi surat kabar. Karena itu fungsi surat kabar sekarang meliputi berbagai aspek, yaitu :



  1. Menyiarkan informasi

Adalah fungsi surat kabar yang pertama dan utama khalayak pembaca berlangganan atau membeli surat kabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya.

  1. Mendidik

Sebagai sarana pendidikan massa (Mass Education), surat kabar memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implicit dalam bentuk berita, bisa juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana. Kadang-kadang cerita bersambung atau berita bergambar juga mengandung aspek pendidikan.

  1. Menghibur

Hal-hal yang bersifat hiburan sering dimuat surat kabar untuk mengimbangi berita-berita berat (Hard News) dan artikel yang berbobot. Isi surat kabar yang bersifat hiburan bisa berbentuk cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang, pojok, karikatur, tidak jarang juga berita mengandung minat insani (Human Interest) dan kadang-kadang tajuk rencana.

  1. Mempengaruhi

Mempengaruhi adalah fungsinya yang keempat yakni fungsi mempengaruhi yang menyebabkan surat kabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Fungsi mempengaruhi dari surat kabar secara implicit terdapat pada berita, sedang secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel. Fungsi mempengaruhi khusus untuk bidang perniagaan pada iklan-iklan yang dipesan oleh perusahaan-perusahaan (Effendy, 1986 : 122-123).
Selain hal tersebut di atas surat kabar sebagai media massa mempunyai peranan yang sangat penting dalam masyarakat seperti dikatakan Oetomo ;

“Berbagai penelitian mengungkapkan orang mambaca surat kabar, hal itu merupakan sarana untuk hidup, pers menjadi perabot rumah tangga yang lebih dalam maknanya dari perabot meja dan kursi, pers menjadi sarana hidup sebab untuk hidup orang perlu mengetahui lingkungannya dan berkomunikasi dengan lingkungannya, untuk masyarakat semakin luas, kompak serta pesatnya perkembangan pers menjadi sarana disamping berbagai media massa lainnya”(Oetomo, 1986 : 47).


Arti pentingnya surat kabar terletak pada fungsi utamanya dalam melengkapi berita bagi para pembacanya, sebagai agen perubahan sosial. Menurut Schramm surat kabar atau pers dapat melakukan peran-peran sebagai berikut :

  1. Pers dapat memperluas cakrawala pemandangan. Melalui surat kabar orang dapat mengetahui kejadian-kejadian yang dialami di negara-negara lain.

  2. Pers dapat memusatkan perhatian khalayak dengan pesan-pesan yang ditulisnya. Dalam masyarakat modern gambaran kita tentang lingkungan yang jauh diperoleh dari pers dan media massa lainnya, masyarakat menilai menggantungkan pengetahuan pers dan media massa.

  3. Pers mampu meningkatkan aspirasi. Dengan penguasaan media, suatu masyarakat dapat mengubah kehidupan mereka dengan cara meniru apa yang disampaikan oleh media tersebut.

  4. Pers mampu menciptakan suasana membangun. Melalui pers dan media massa dapat disebarluaskan informasi kepada masyarakat, ia dapat memperluas cakrawala, pemikiran serta membangun simpati, memusatkan perhatian pada tujuan pembangunan sehingga tercipta suasana pembangunan yang serasi dan efektif (Rachmadi, 1990 : 17-18).

Dengan demikian surat kabar telah membawa banyak perubahan pada kehidupan individu dan masyarakatlewat berita-berita dan artikel yang disajikan, serta iklan-iklan yang ditawarkan dengan berbagai bentuk dan tulisan yang menarik, cakrawala pandangan seseorang menjadi bertambah, sehingga dapat tercipta aspirasi untuk membenahi diri dan lingkungannya.


2.6 Tinjauan tentang Berita (News)

2.6.1 Pengertian Berita

Secara sosiologis, berita adalah semua hal yang terjadi di dunia. Dalam gambaran yang sederhana, seperti dilukiskan dengan baik oleh pakar jurnalisitik, berita adalah apa yang ditulis surat kabar, apa yang disiarkan radio, dan apa yang ditayangkan televisi. Berita menampilkan fakta, tetapi tidak setiap fakta merupakan berita.

Menurut Paul De Massenner dalam buku “Here’s The News: Unesco Associate”, menyatakan :

News atau berita adalah sebuah informasi yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak pendengar”(Sumadiria, 2005:65).

Sedangkan Charnley dan James M. Neal, menuturkan :
“Berita adalah laporan tentang suatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak”(Errol Jonathans dalam Mirza, 2000:68-69; dalam Sumadiria, 2005:64).
Sedangkan berita menurut Edward Jay Friedlander dkk, dalam bukunya “Exellence in Reporting”, mengatakan :

News is what you should know that you don’t know. News is what has happened recently that is important to you in your daily life. News is what fascinates you, what excites you enough to say to a friend, ‘Hey, did you hear about...?’ News is what local, national, and international shakers and moversare doing to affect your life. News is the unexpected event that, fortunately or unfortunately, did happened. Berita adalah apa yang harus anda ketahui dan yang tidak ketahui. Berita adalah apa yang terjadi belakangan ini yang penting bagi anda bagi kehidupan anda sehari-hari. Berita adalah apa yang menarik bagi anda, apa yang cukup menggairahkan anda untuk mengatakan kepada seorang teman,’Hey, apakah kamu sudah mendengar....?’ Berita adalah apa yang dilakukan oleh pengguncang dan penggerak lokal, nasional, dan internasional untuk mempengaruhi kehidupan anda. Berita adalah kejadian yang tidak disangka-sangka yang, untungnya atau sayangnya, telah terjadi“(Budyatna, 2006:39).


Definisi-definisi dari beberapa pakar di atas, lebih banyak bertitik tolak dari dunia surat kabar. Kenyataan itu tidak salah, hanya tidak lengkap karena media massa tidak hanya merujuk kepada surat kabar, tetapi juga mencakup radio, televisi, film, dan bahkan juga sekarang ini internet.

Dengan kata lain, berita tidak hanya merujuk pada pers atau media massa dalam arti sempit dan “tradisional”, melainkan juga pada radio, televisi, film, dan internet. Tak ada media tanpa berita, sebagaimana berita tanpa media. Berita telah tampil sebagai kebutuhan dasar (basic needs) masyarakat modern di seluruh dunia.


2.6.2 Klasifikasi Berita

Menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya “Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature”, mengatakan :

“Berita dapat diklaifikasikan ke dalam dua kategori: berita berat (hard news) dan berita ringan (soft news). Selain itu, berita juga dapat dibedakan menurut lokasi peristiwanya, di tempat terbuka atau tertutup.sedangkan berdasarkan sifatnya, berita bisa dipilah menjadi berita diduga dan tidak diduga. Selebihnya, berita juga bisa dilihat menurut materi isinya yang bermacam-macam”(Sumadiria, 2005:65).
Berita berat sesuai dengan namanya, menunjuk pada peristiwa yang mengguncang dan menyita perhatian seperti kebakaran, gempa bumi, kerusuhan. Sedangkan berita ringan, juga sesuai dengan namanya, menunjuk pada peristiwa yang lebih bertumpu pada unsur-unsur ketertarikan manusiawi, seperti pesta pernikahan bintang film, atau seminar sehari tentang perilaku seks bebas di kalangan remaja.

Berdasarkan sifatnya, berita terbagi atas berita diduga dan berita tak terduga. Menurut AS Haris Sumadiria dalam buku “Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature”, mengatakan :

“Berita diduga adalah peristiwa yang direncanakan atau sudah diketahui sebelumnya, seperti lokakarya, pemilihan umum, peringatan hari-hari bersejarah. Proses penanganan berita yang sifatnya diduga disebut making news. Artinya kita berupaya untuk menciptakan dan merekayasa berita (news engineering). Sedangkan berita tidak diduga adalah peristiwa yang sifatnya tiba-tiba, tidak direncanakan, tidak diketahui sebelumnya, seperti kereta api terguling, gedung perkantoran terbakar, bus tabrakan, kapal tenggelam. Proses penanganan berita yang sifatnya tidak diketahui dan tidak direncanakan, atau sifatnya tiba-tiba itu, disebut hunting news. Orangnya disebut sebagai pemburu (hunter)“(Sumadiria, 2005:66).
Berdasarkan materi isinya, menurut Haris, berita dapat di kelompokan ke dalam :


  1. Berita pernyataan pendapat, ide atau gagasan (talking news)

  2. Berita ekonomi (economic news)

  3. Berita keuangan (financial news)

  4. Berita politik (political news)

  5. Berita sosial kemasyarakatan (social news)

  6. Berita pendidikan (education news)

  7. Berita hukum dan keadilan (law and justice news)

  8. Berita olah raga (sport news)

  9. Berita kriminal (crime news)

  10. Berita bencana dan tragedi (tragedy and disaster news)

  11. Berita perang (war news)

  12. Berita ilmiah (scientific news)

  13. Berita hiburan (entertaintment news)

  14. Berita tentang aspek-aspek ketertarikan manusiawi atau minat insani (human interest)

(Sumadiria, 2005:67).
Pada akhirnya pengetahuan dan pemahaman tentang klasifikasi berita, sangat penting sebagai salah satu pijakan dasar dalam proses perencanaan, peliputan, dan pelaporan serta pemuatan, penyiaran, atau penayangan berita.
2.6.3 Jenis-jenis Berita

Dalam dunia kursus bahasa asing, terutama kursus bahasa inggris, kita mengenal jenjang kemampuan penguasaan materi. Orang yang termasuk pemula harus masuk kelas dasar (elementary) terlebih dahulu. Setelah beberapa lama dan dinyatakan lulus tes, peserta naik tingkat ke kelas lanjutan (intermediate).

Dalam dunia jurnalistik tidak jauh berbeda. Seorang wartawan pemula, tidak akan mampu menulis pelaporan investigatif. Jenis pelaporan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh wartawan senior tingkat advance. Kebanyakan jurnalis hanya menguasai tingkat elementary dan tingkat intermediate. Sedikit sekali yang mnguasai tingkat advance.

Menurut Rivers (1994:6-7), memaparkan :

“Berita elementary mencakup pelaporan berita langsung (stright news), berita mendalam (depth news), dan berita menyeluruh (comprehensive news report). Berita intermediate meliputi pelaporan berita interpretatif (interpretative news report) dan pelaporan karangan-khas (feature story report). Sedangkan untuk kelompok advance menunjuk pada pelaporan mendalam (depth reporting), pelporan penyelidikan (investigative reporting), dan penulisan tajuk rencana (editorial writing)”(Sumadiria, 2005:68-69).

Menurut AS Haris Sumadiria dalam buku “Jurnalistik Indonesia, Menulis berita dan Feature”, menjelaskan :



  1. Straight news report adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa.

  2. Depth news report merupakan laporan yang sedikit berbeda dengan straight news.

  3. Comprehensive news report merupakan laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek.

  4. Interpretative report lebih dari sekedar straight news dan depth news.

  5. Feature Story berbeda dengan straight news, depth news, dan interpretative news.

  6. Depth Reporting adalah pelaporan jurnalistik yang bersifat mendalam, tajam, lengkap dan utuh tentang suatu peristiwa fenomenal dan aktual.

  7. Investigative reporting berisikan hal-hal yang tidak jauh berbeda dengan laporan interpretatif.

  8. Editorial writing adalah pikiran sebuah institusi yang diuji di depan sidang umum (Sumadiria, 2005:69-71).

Dalam pembahasan di atas, diketahui bahwa terdapat delapan jenis berita, dimana setiap berita mempunyi tingakat kesulitan dalam proses pembuatannya. Dari yang paling mudah mendapatkan berita sampai yang paling sulit, dan kemampuan wartawan harus teruji dalam melakukan setiap peliputan baik peliputan sederhana untuk berita ringan sampai peliputan yang paling berat yakni investigatif untuk berita investigatif.



2.6.4 Konsep Berita

Menurut George Fox Mott dalam “New Survey of Journalism” (1958), mengatakan :

“Paling tidak terdapat delapan konsep berita yang harus diperhatikan oleh para praktisi dan pengamat media massa. Kedelapan konsep itu meliputi : (1) berita sebagai laporan tercepat (news as timely reporting), (2) berita sebagai rekaman (news as record), (3) berita sebagai fakta objektif (news as objective fact), (4) berita sebagai interpretasi (news as interpretative), (5) berita sebagai sensasi (news as sensation), (6) berita sebagai minat insan (news as human interest), (7) berita sebagai ramalan (news as prediction), dan (8) berita sebagai gambar (news as picture )”(Effendy, 2003:130-134, dalam Sumadiria, 2005:71-72).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, berita merupakan laporan tercepat tentang suatu kejadian yang disiarkan surat kabar, radio, televisi, maupun media on line internet mengenai opini ataupun berupa fakta-fakta objektif dalam merefleksikan suatu kejadian sehingga menimbulkan interpretasi pembaca yang selanjutnya akan timbul sebuah sensasi dari refekksivitas terhadap pesan yang di bawa media.
2.7 Tinjauan tentang Opini (Views)

2.7.1 Pengertian Opini (views)

Opini (views) merupakan salah satu produk jurnalistik yang meliputi : artikel, tajuk rencana (editorial), karikatur, pojok, kolom, dan surat pembaca. Menurut Vincent Price, opini adalah :

Judgment formed in the mind about particular action on proposed action of collective concern. Pendapat yang terbentuk dalam pikiran tentang berbagai macam kegiatanatau mengemukakan kegiatan yang menjadi perhatian bersama”(Sunargo, 1997:88).
Pemisahan secara tegas berita dan opini, merupakan konsekuensi dari norma dan etika luhur jurnalistik yang tidak menghendaki berita sebagai fakta objektif, diwarnai atau dibaurkan dengan opini sebagai pandangan yang sifatnya subjektif.

Dalam penelitian ini peneliti meneliti tentang Pojok yang ada di HU Pikiran Rakyat, yang nama rubriknya ialah Ole-Ole.


2.8 Tinjauan tentang Pojok

2.8.1 Pengertian Pojok

Menurut Haris Sumadiria dalam bukunya yang berjudul “Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature”, mengatakan :

“Pojok adalah kutipan pernyataan singkat narasumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik atau kontroversial, untuk kemudian dikomentari oleh pihak redaksi dengan kata-kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, dan adakalanya reflektif.”(Sumadiria, 2005 : 9-10)
Senada dengan definisi di atas, Alex Sobur dalam artikelnya yang berjudul “Membaca Pojok Koran Kita”, mengatakan :

“Pojok adalah tulisan yang berisi komentar-komentar tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik. Ditulis dengan gaya yang sangat pribadi, dengan nada humoristis, ringan dengan tujuan untuk menghibur pembaca, tetapi juga dengan sedikit nada sinis,’nyelekit’, mengecam dengan pedas, bertujuan menarik pembaca kepihak penulis pojok”(2007).


Tujuannya adalah untuk mencubit, mengingatkan, atau menggugat sesuai dengan fungsi kontrol sosial yang dimiliki pers. Kritis tetapi tetap etis. Sesuai dengan namanya, pojok ditempatkan disebelah pojok. Dalam setiap penerbitan, pojok memuat tiga-lima butir kutipan pernyataan atau peristiwa menarik untuk dikomentari.

Setuju atau tidak, pojok dari sebuah media memiliki arti yang sangat khusus bagi pembaca bergegas. Sifatnya yang ringkas, lengkap, dan aktual menjadi salah satu rujukan isi. Sementara guyonan, sindiran, kritik, sebagai respons atau komentar dari media bersangkutan terhadap satu peristiwa menjadi pengikat bai pembaca media tersebut.

Menurut Darminto M. Sudarmo dalam artikelnya yang berjudul “Pojok Media, Dari Lucu ke Somasi Analogi”, mengatakan :

“Pojok sering disebut sebagai karikatur dalam bentuk kata-kata. Ada yang menggiring istilah karikatur kata-kata sebagai ‘karikata’, sayang istilah ini kurang bergaung. Ada yang menggolongkan pojok sebagai tajuk singkat sebuah media”(Kompas, No.146, 2007:14).


Apa pun istilah yang sepatut dan seharusnya disandang, hal yang paling penting dari sebuah pojok adalah kemampuannya memlih topik dan komentar yang menyertainya.

Topik-topik ulasan yang disajikan dalam rubrik pojok sangat luas : sosial, ekonomi, politik, militer, olah raga, budaya, agama, kesenian, kebudayaan, kriminalitas, kemanusiaan, tragedi, flora dan fauna. Apapun yang dijadikan sasaran tembak pojok, sejauh semuanya terikat dalam bingkai berita (news frame).

Menurut pandangan wartawan senior dan tokoh pers terkemuka Jakob Oetama (1985:214)(dalam Sumadiria, 2005:10), pojok, yang pada mulanya sentilan ringan kini berubah menjadi semacam tajuk rencana kecil-kecilan.

Gaya penyajian pojok sangat bebas, segala macam cara dan pendekatan bisa dipilih dan dicoba, baik itu dengan cara reflektif, maupun humoris dan sedikit sinis. Sesuai dengan namanya, pojok bisa bicara apa saja, tentang apa saja, dengan siapa saja, tanpa pernah berfikir kehabisan ide dan cara. Betapapun demikian, sesuai dengan fungsi dan landasan yang dipunyai pers, pojok tetap harus memenuhi kaidah etis.

Pojok juga bisa disebut sebagai suatu kritik sosial. Menurut Astrid S. Susanto dalam artikelnya disebutkan bahwa suatu kritik sosial adalah penilaian ilmiah ataupun pengujian terhadap situasi masyarakat pada suatu saat. Jadi sangat jelas sekali, keberadaan pojok di Indonesia sebaqgai penyalur kritik untuk para masyarakat, sekalipun itu para pejabat tinggi tanadi tanah air ini.
2.8.2 Sejarah Pojok

Kapan rubrik pojok muncul dalam pers Indonesia? Menurut Masmimar Makah, mengatakan :

“Pada saat kita melengkapi kultur bangsa dengan mengenal media massa sebagai sarana komunikasi, surat kabar-surat kabar berbahasa Indonesia yang terbit pada zaman Hindia Belanda, senantiasa memuat tulisan disuatu sudut halamannya yang selalu mendapat perhatian pembaca. Rubrik kecil yang mengandung kritik ini, yang boleh jadi tercipta untuk melawan kolonial, diteruskan pada zaman pendudukan Jepang, dan berkelanjutan hingga sekarang.”(Prisma, Vol 10, 1977:33).
Isinya senantiasa kritik, kadang-kadang pedas dengan tempo-tempo halus tapi menusuk. Rubrik dengan ciri sinis dan lucu ini, ahkhirnya lebih populer dengan sebutan pojok. Pojok merupakan khas buatan pers Indonesia dan sering mendapat perhatian pembaca, terbukti dengan lahirnya istilah ‘memojoki’ beberapa tahun silam.

Rubrik pojok yang tergolong ‘nakal’ ini, demikian populernya di kalangan pembaca, dan nama ‘si nakal penjaga pojok’ yang dibubuhkan dibawahnya juga kesohor. Penjaga pojok surat kabar Pemandangan sejak zaman Hindia Belanda diberi nama “Bang Bedjat”. Orang umumnya tahu bahwa penulis rubrik ini Anwar Tjokroaminoto. Dan mereka yang kenal Anwar Tjokroaminoto serta merta memanggilnya “Bang Bedjat”.

Iklim liberal yang dirasakan pada tahun 1950-an, memberikan suasana yang lebih bebas pula bagi kenakalan pojok surat kabar. Informasi yang belum berhasil didengar wartawan, tetapi belum muncul dan sulit diungkapkan dengan berita biasa, pada suatu saat bisa muncul lewat pojok. Hal tersebut membuat rubrik kecil ini menjadi makin menarik bagi pembaca.

Menurut Masmimar Makah dalam artikelnya yang berjudul “Pojok Sebagai Penyalur Kritik”, mengatakan :

“Penamaan pojok, nampaknya disebabkan oleh penempatan rubrik kecil ini di halaman surat kabar. Ruangan yang diberikan untuknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang diberikan kepada tajuk rencana, berita maupun artikel-artikel lainnya”(Prisma, Vol.10, 1977:34).
Pojok dengan tokohnya, seakan-akan sorang tukang gong yang suka berbicara seenaknyadalam suatu pembicaraan ramai. Dia berbicara dari sudut ruangan, memancing perhatian khalayak pembaca. Terdapat perbedaan di antara beberapa surat kabar dalam pemilihan halaman untuk rubrik kecil ini. Ada yang menempatkannya di halaman muka, yang lain meletakannya di halaman dalam. Baik pada muka yang sama dengan tajuk rencana atau pun terpisah.
2.8.3 Ciri-ciri Pojok

Menurut Suhendra (1989:38), menerangkan bahwa : “rubrik pojok memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada setiap surat kabar, yakni :



  1. Pojok berisi dua alinea. Alinea pertama menyajikan suntingan berita atau peristiwa. Alinea kedua menyajikan

  2. Isi yang disajikan baik dalam alinea pertama maupun dalam alinea kedua, biasanya terangkai dalam kalimat pendek.

  3. Opini atau pandangan-pandangan dari lembaga surat kabar disajikan dalam kalimat-kalimat sinis dan humoris.

  4. Nama rubrik pojok, dan nama penjaga pojok itu sendiri”(Sumadiria, 2005:10).

Secara garis besar pojok menampilkan cuplikan pernyataan yang teramat pendek dengan kalimat-kalimat sinis maupun humoris. Dalam pojok terdapat nama penjaga pojok. Seperti halnya pada HU Pikiran Rakyat dalam pojoknya yang diberi nama ‘ole-ole’, dan ‘Si kabajan’ sebagai penjaga pojok.



2.9 Tinjauan tentang Semiotik

2.9.1 Pengertian Semiotik

Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata Yunani, semeion yang berarti tanda. Menurut Umberto Eco (dalam Sobur, 2004:95), mengatakan :

“Tanda itu didefinisinkan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensional sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain”(Sobur, 2004:95).
Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial. Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjukkan pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandakan adanya api, ketika terjadi api yang besar maka akan terjadi musibah kebakaran.

Secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Sedangkan menurut Van Zoest (1996:5), mengatakan :

“Semiotik adalah ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya : cara berfungsinya, hubungan dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.”(Sobur, 2004:96)


Batasan lebih jelas mengenai definisi semiotik dikemukakan oleh Preminger (2001:89), yang mngetakan :

“Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial / masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.”(Sobur, 2004:96)


Meskipun refleksi mengenai tanda itu mempunyai sejarah filsafat yang patut dihargai, namun semiotik atau semiologi dalam arti modern berangkat dari seorang ahli bahasa Swiss, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913), yang mungemukakan pandangan linguistik hendaknya menjadi bagian dari suatu ilmu pengetahuan umum tentang tanda, yang disebutnya semiologi.

Pemahaman akan struktur semiosis menjadi dasar yang tidak bisa ditiadakan bagi penafsir dalam upaya mengembangkan pragmatisme. Seorang penasir adalah yang berkedudukan sebagai peneliti, pengamat, dan pengkaji objek yang dipamainya. Dalam mengkaji objek yang dipahaminya, seorang penafsir yang jeli dan cermat, sesuatunya akan dilihat dari jalur logika, yakni (Sobur, 2004:97; Santosa, 1993:10; Zoest, 1993:18-20) :



  1. Hubungan penalaran dengan jenis penandanya :

    1. Qualisigns : penanda yang bertalian dengan kualitas.

Tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Qualisigns yang murni pada kenyataannya tidak pernah ada. Jadi agar benar-benar berfungsi, qualisign harus mempunyai bentuk.

    1. Sinsigns : penanda yang bertalian dengan kenyataan.

Tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilembagakan merupakan sinsigns.

    1. Legisigns : penanda yang bertalian dengan kaidah.

Tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Semua tanda bahasa merupakan legisigns, karena bahasa merupakan kode. Setiap legisigns mengimplikasikan sinsigns, sebuah second yang mengaitkan sebuah third, yakni peraturan yang bersifat umum. Jadi, legisign sendiri merupakan sebuah third.

  1. Hubungan kenyataan dengan jenis dasarnya :

    1. Icon : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya,

    2. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya,

    3. Symbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan kaidah secara konvensi telah lazim digunakan oleh masyarakat.

  2. Hubungan pikiran dengan jenis petandanya :

    1. Rheme or seme : penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek petanda bagi penafsir,

    2. Dicent or decisign or pheme : penanda yang menapilkan informasi tentang pettandanya,

    3. Argument : penanda yang petandanya akhir bukan suatu benda tetapi kaidah

(Sobur, 2004:97-98).
Kesembilan tipe penanda sebagai suatu struktur semiosis itu dapat dipergunakan sebagai dasar kombinasi satu dengan lainnya. Dalam kaitannya dengan ilmu bahasa, semiotik menurut Charles Moris, memiliki tiga cabang :

“Sintaktika (sintaksis) sebagai ilmu bahasa yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual yang berupa kata untuk membentuk satuan kebahasaan yang lebih besar seperti frase, klausa, kalimat dan wacana. Semantika (semantik) adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna unit semantik yang terkecil disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terbentuk dari satuan kebahasaan. Pragmatika (pragmatis) adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi”(Sobur, 2004:102).


Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan semiotik merupakan ilmu yang mepelajari tentang tanda (peritiwa-peristiwa, kebudayaan, dan objek).
2.9.2 Macam-macam Semiotik

Menurut Pateda (2001:29), menerangkan bahwa : “sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang sudah dikenal, yakni :



  1. Semiotik Analitik, yakni semiotik yang menganalisis sistem tanda. Semiotik berobjekan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.

  2. Semiotik Deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun terdapat tanda lain yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.

  3. Semiotik Fauna (zoosemiotic), yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikasi antar sesamanya, tetapi sering juga menghasilkan tanda yang ditafsirkan oleh manusia.

  4. Semiotik Kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang juga termasuk sistem itu, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakannya dengan masyarakat yang lain.

  5. Semiotik Naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan erita lisan (folklore).

  6. Semiotik Natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam.

  7. Semiotik Normatif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu-lintas.

  8. Semiotik Sosial, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia lambang, baik lambang yang berwujud kata maupun lambang yang berwujud kata dalam satuan disebut kalimat.

  9. Semiotik Struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.”(Sobur, 2004:100-101)

Dalam perkembangannya semiotik tidak hanya dipakai dalam kajian linguistik, tapi semiotik juga bisa digunakan dalam menganilis berbagai objek seperti semiotik hewan (zoosemiotic) dan semiotik alam (natural semiotic).



2.9.3 Tanda dan Makna dalam Semiotik

2.9.3.1 Tanda

Semua model makna memiliki bentuk yang secara luas serupa dan atau mirip. Masing-masing memperhatikan tiga unsur yang mesti ada dalam setiap studi tentang makna. Ketiga unsur tersebut adalah : a) tanda, b) acuan tanda, c) pengguna tanda.

Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengamatan oleh penggunanya sehingga bisa disebut tanda.

Peirce (dalam Fiske, 2004:62), mengatakan:

“Tanda dalam acuannya dan penggunaannya sebagai tiga titik dalam segitiga. Masing-masing terkait erat pada dua yang lainnya, dan dapat dipahami dalam artian pihak lain” (Suprapto, 2006:114).
Sedangkan Saussure berpendapat lain, ia mengatakan :

“Tanda terdiri atas bentuk fisik plus konsep mental yang terkait, dan konsep ini merupakan pemahaman atas realitas eksternal”(Suprapto, 2006:114).


Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanda terdiri pada realitas hanya melalui konsep orang yang menggunakannya.

2.9.3.2 Makna

Semiotik berusaha menggali hakikat sistem tanda yang beranjak ke luar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi, dan bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti penunjukan (dennotative), kaitan dan kesan yang ditimbulkan dan diungkapkan melalui penggunaan dan kombinasi tanda.

Dalam pandangan Saussure, makna sebuah tanda sangat dipengaruhi oleh tanda yang lain. Sedangkan Umar Junus menyatakan :

“Makna dianggap sebagai fenomena yang bisa dilihat sebagai kombinasi beberapa unsur dengan setiap unsur itu. Secara sendiri-sendiri, unsur tersebut tidak mempunyai makna sepenuhnya”(Sobur, 2004:126).


Menurut Bolinger (dalam Aminuddin, 2003:153), mengatakan :

“Makna adalah hubungan antara bahasa dan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti”(Sumadiria, 2006:26).


Dalam pandangan Aminuddin (2003:7), makna dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni :

  1. Makna menjadi isi abstraksi dalam kegiatan bernalar secara logis sehingga membuahkan proposisi kebahasaan.

  2. Makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan.

  3. Makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu.

(Sumadiria, 2006:26).

Sebuah makna berasal dari petanda-petanda yang dibuat manusia, ditentukan oleh kultur atau subkultur yang dimilikinya yang merupakan konsep mental yang digunakan dalam membagi realitas dan mengkategorikannya sehingga manusia dapat memahami realitas tersebut.


2.9.4 Kategori-Kategori Tanda

Pierce dan Saussure menjelaskan berbagai cara dalam meyampaikan makna. Peirce membuat tiga kategori tanda yang masing-masing menunjukkan hubungan berbeda di antara tanda dan objeknya atau apa yang diacunya.



  1. Ikon adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang ditandainya, misalnya foto atau peta.

  2. Indeks ada hubungan langsung antara tanda dan objeknya. Ia merupakan tanda yang hubungan eksistensionalnya langsung dengan objeknya.

  3. Simbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan konvensi, kesepakatan atau aturan kata-kata umumnya adalah simbol (Suprapto, 2006:120).

Tommy Suprapto dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Teori Komunikas”, mengemukakan beberapa pokok pikiran tentang makna dan tanda dalam proses komunikasi, diantaranya adalah sebagai berikut :



  1. Dalam proses komunikasi, seperangkat tanda merupakan hal yang penting karena ini merupakan pesan yang harus dipahami oleh komunikan. Komunikan harus menciptakan makna yang terkait dengan makna yang dibuat oleh komunikator. Semakin banyak kita berbagi kode yang sama, makin banyak kita menggunakan sistem tanda yang semakin sama.

  2. Tanda-tanda (sign) adalah basis dari seluruh kegiatan komunikasi. Manusia dengan perantara tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Kajian tentang tanda dalam proses komunikasi tersebut sering disebut semiotika komuniksi.

  3. Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda, yang salah satu di antaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu : pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan hal yang dibicarakan.

  4. Semiotika mempunyai 3 bidang, yaitu :

    1. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas aturan tentang berbagai tanda yang berbeda, cara tanda-tanda yangberbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya.

    2. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya atau untuk mengeksploitasi selama komunikasi yang tersedia mentransmisinya.

    3. Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri

(Suprapto, 2006:123).
Sebuah simbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objek berdasarkan perjanjian, kesepakatan atau aturan dari sebuah kebudayaan.
2.10 Tinjauan tentang Teori Segitiga Makna (The Triangle Meaning Theory)
2.10.1 Teori Segitiga Makna (The Triangle Meaning Theory)
Teori Segitiga Makna (triangle meanning) Peirce yang terdiri atas sign (tanda), object (objek), dan interpretant (interpretan), yang ditulis oleh Alex Sobur dalam buku “Analisis Teks Media” mengatakan :

“Salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretan adalah tanda yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda”.(Sobur, 2004:115)


Pierce juga menambahkan, apabila ketiga elemen makna itu berinteraksi dalam benak seseorang, maka munculah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut. Yang dikupas dari teori segitiga makna adalah persoalan bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi. Hubungan segitiga makna Peirce dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.2

Elemen Makna Peirce
Sign


Interpretant Object

Sumber : John Fiske, Introduction to Communication Studies, 1990, hlm.41.

(dalam Sobur, 2004:115)

Dari gambar di atas menunjukkan panah dua arah yang menekankan bahwa masing-masing istilah dapat dipahami hanya dalam relasinya dengan yang lain. Sebuah sign (tanda) mengacu pada kepada sesuatu di luar dirinya sendiri - object (objek), dan ini dipahami oleh seseorang serta ini memiliki efek di benak penggunanya – interpretant (interpretan).


2.10.2 Teori Norma-norma Budaya (The Cultural Norms Theory)

Teori Norma-norma Budaya menurut Melvin DeFleur (dalam Severin dan Tankard Jr, 2006:51), mengatakan :

“Pada dasarnya teori norma-norma budaya mengemukakan bahwa media massa melalui prentasi selektif dan penekanan terhadap tema-tema tertentu menciptakan kesan diantara para khalayaknya”(Suprapto, 2006:51).
Oleh karena itu perilaku individual biasanya dipandu oleh norma-norma budaya mengenai suatu hal tertentu, maka media komunikasi secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku.

Terdapat tiga cara di mana media massa secara potensial mempengaruhi situasi dan norma-norma budaya, yakni :



  1. Pesan komunikasi massa akan memperkuat pola-pola budaya yang berlaku dan memandu khalayak untuk percaya bahwa suatu bentuk sosial tertentu tengah dibina oleh masyarakat.

  2. Media komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal-hal di mana khalayak sedikit banyak telah memiliki pengalaman sebelumnya.

  3. Komunikasi massa dapat mengubah norma-norma yang tengah berlaku dan karenanya mengubah kahalayak dari suatu bentuk perilaku menjadi bentuk perilaku lainnya.

Menurut Lazarfeld dan Merton (dalam Wright, 1985), mengatakan :

“Media sebenarnya hanya berpengaruh dalam memperkokoh norma-norma budaya yang berlaku. Media bekerja secara konservatif dan hanya menyesuaikan diri dengan norma-norma budaya masayarakat seperti selera dan nilai, daripada memimpin mereka untuk membentuk norma-norma yang baru.”(Suprapto, 2006:21)


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©kagiz.org 2016
rəhbərliyinə müraciət