Ana səhifə

1337 Hadis Sahih, 900 Keistimewaan, 830 Tafsir


Yüklə 2.05 Mb.
səhifə1/16
tarix12.06.2016
ölçüsü2.05 Mb.
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   16
www.Allah.com www.Muhammad.com

@Tafsir Al-Qur'an oleh Nabi



Pujian dan kedamaian kepadanya

Lewat Hadis Sahih



1337 Hadis Sahih, 900 Keistimewaan, 830 Tafsir

Karya


Pakar Kutipan Kenabian(Muhaddis),Habib Abdullah Talidi Habib Ghumari dari Tanjir, Maroko

Terjemahan Bahasa Indonesia dan Inggris

oleh

(Aisyah) Nadriyah, Jamiatul Hamida (Zainab Al Haddad)



1741 Sub-Titles by Khadijah Abdullah Darwish dan Norkhadejah Darwish

Khadim al Hadith Ahmed Darwish

(c) 1431H -2010M Allah.com Muhammad.com

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Alkitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan tidak mengadakan baginya kebengkokan. (Al-Kahf-18: 1)

Maha Suci Alloh yang telah menurunkan Alfurqon (Al-Quran) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam (jin dan manusia). (Al-Furqan-25: 1)

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak ada baginya sekutu dalam kerajaan dan tidak ada bagi-Nya penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia sebesar-besarnya." (Al-Isra'-17, 111)

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi dan bagi-Nya segala puji di hari keabadian. Dan Dia Yang Maha Bijaksana, Maha teliti. (Saba'-34: 1)

Pujian, kedamaian, dan keberkahan, semoga selalu terlimpah, kepada sebaik-baik makhluk, dan Rasul termulia, Nabi Muhammad, yang suci dan menyucikan, juga kepada keluarganya, yang suci dan mengumpulkan keutamaan, serta para sahabatnya yang terpilih.

Al-Quran adalah perlindungan dan jalan, menuju keselamatan dan kebahagiaan, merupakan pokok agama, konstitusi sistem hukum, hukum keadilan, serta perkataan yang terperinci.

Al-Quran itu nikmat yang agung, dan kebanggaan, serta zikir bagi umat. Didalam Al-Qur'an, terkandung berbagai ilmu pengetahuan, kebenaran, pengajaran tentang akidah, ibadah dan akhlak, tata aturan kemasyarakatan, hukum-hukum pidana dan perdata, peperangan, keuangan, hak asasi manusia, urusan-urusan sosial dan hubungan internasional. Tidak ada kitab yang mengumpulkan semua itu selain Al-Qur'an.

Al-Quran merupakan Risalah Allah Yang Maha Tinggi kepada para penyembah-Nya. Diturunkan kepada makhluk utama, dan Rasul terbaik, Nabi Muhammad, putra Abdullah, Bani Abdul Mutholib, Bani Hasyim, semoga pujian, berkah, rahmat , kedamaian, dan keselamatan, terlimpah kepadanya, beserta keluarganya, serta seluruh umatnya. Allah telah memerintah kepadanya, agar menyampaikan risalah-Nya, kepada seluruh penyembah-Nya, supaya mereka mengetahui, dan sepanjang hidup mereka, berada dijalan yang terang, sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di hari keabadian.

Diantara anugerah agung dan kasih sayang Allah Yang Maha Tinggi pada umat, adalah menjadikan kitab suci ini, dalam bahasa arab, yang merupakan bahasa termulia dengan beragam bidang-bidangnya.

Selama masa kenabian, bangsa arab yang mendengar sebuah ayat maupun surat, dalam Kitab Allah (Al-Qur'an), mereka memahami makna-maknanya, dan bukti-bukti (dalil-dalil) nya, juga mengetahui susunan kalimat, beserta penjelasan, dan ilmu-ilmu yang terkandung didalamnya.

@Penjelasan Nabi pujian dan kedamaian kepadanya kepada Al-Quran yang Mulia

Al-Quran benar-benar kitab petunjuk bagi seluruh manusia. Datang dengan ajaran baru terpercaya. Di dalam Al-Qur'an, terdapat perkara-perkara, dan struktur kalimat, yang tidak diketahui bangsa Arab sebelumnya. Maka Allah Yang Maha Tinggi menerangkan, dan menjelaskannya melalui Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, dengan menurunkan wahyu kepadanya. Karenanya Allah berfirman,

"Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Az-Zikr (Al-Qur'an) agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (An-Nahl-16: 44)

"Dan Kami tidak menurunkan atasmu (Muhammad) Al-Kitab melainkan agar menjelaskan kepada mereka yang berselisih di dalamnya, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (An-Nahl-16: 64)

Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, telah menerapkan Al-Qur'an pada dirinya sendiri, dalam segala ucapan, perbuatan, persetujuannya, petunjuk dan perikehidupannya. Karena itu bersabda dalam hadis berikut ini:

"Perhatikanlah, dan sungguh aku telah diberi Al-Qur'an, dan yang sepertinya menyertainya." Hadis sahih di riwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud dalam "Sunnah" dan Tirmidzi dalam "Ilm" .

Yang diberikan kepadanya menyertai Al-Qur'an, yaitu sunnahnya yang mulia, dengan beragam bagian dan macamnya. Setiap ucapan dan perbuatannya -selama masa kenabian- berbau harum semerbak, tidak termasuk urusan-urusan pribadinya. Nabi Muhammad adalah keterangan global dan terperinci dari Al-Qur'an, yang mana telah menjelaskan, perkara-perkara yang samar didalamnya, menafsirkan isinya, menentukan hal-hal yang khusus dari perkara yang umum,dsb. Maka menjadikan seluruh isi Al-Qur'an, menjadi jelas bagi sahabat-sahabatnya.

Imam Syafi'i, semoga Allah meridainya, berkata: Setiap perkataan Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, adalah penjelasan Al-Qur'an, dan setiap yang diucapkan para ulama', adalah penjelasan sunnah.

Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, sungguh telah menjelaskan, kepada para sahabatnya, kata-kata dan makna-makna, yang ada didalam Al-Qur'an.

Allah berfirman, "Agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An-Nahl-16: 44)

Abu Abdurrohman As-Sulami, semoga Allah merahmatinya, berkata: Para pembaca Al-Qur'an seperti Usman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya, semoga Allah meridhai mereka, melaporkan bahwa mereka telah belajar Al-Qur'an dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya. Di setiap sepuluh ayat, mereka benar-benar telah memahami, segala ilmu dan amalan, yang terkandung didalamnya, baru kemudian melanjutkan pada ayat berikutnya. Mereka berkata : Kami telah mempelajari Al-Qur'an, beserta ilmu-ilmunya serta mengamalkannya.

Dengan perkenan, dan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi, Syekh Talidi telah meneliti, dan mengumpulkan hadis Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tentang tafsir yang sahih, maupun yang menyerupainya. Diambilnya dari hadis sahih, serta dari Kumpulan dan Induk Sunnah Muhammadiyah yang masyhur. Inilah kitab tafsir, berdasarkan hadis sahih yang pertama kali. Adapun kitab-kitab yang ada sebelumnya, telah tercampuri hadis-hadis lemah (maudu').

Ada perkataan Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya, yang terkenal: Tiga perkara, yang kerap tidak memiliki asas, yaitu tafsir, menceritakan tentang peperangan, dan sejarah peperangan. Biasanya tidak ada dasar hadis, dan sanad yang sahih, namun jika ternyata ada banyak sahihnya, itu lebih baik. Alhamdulillah, dalam tafsir ini, seluruh hadisnya adalah sahih.

@Tafsir Menurut Ulama

Tafsir menurut bahasa adalah penjelas, penerang, dan penyingkapan tujuan, dari kata-kata (lafadz-lafadz) yang sukar. Begitulah kesimpulan menurut pakar bahasa.

Adapun menurut istilah, yaitu ilmu untuk bisa memahami kitab Allah, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya, menunjukkan hukum-hukumnya. sumber penafsirannya melalui antara lain dari Ilmu bahasa, tasrif, nahwu, ilmu bayan, ushul fiqh, qira'a>t (versi bacaan al-Quran), pengetahuan sebab-sebab turunnya ayat, serta ilmu na>sih{ mansu>h} (penggantian hukum dengan hukum yang lain).

Dengan kata lain, tafsir adalah menyingkap makna-makna Al-Qur'an, dan penjelasan panjang lebar kata-kata yang sukar, dan sebagainya, maupun makna-makna yang tampak, dan sebagainya.



Orang Islam Butuh Tafsir Al-Qur'an Melalui Kalam (Perkataan) Nabi (pujian dan kedamaian kepadanya)

Sepanjang masa, manusia akan selalu butuh Ilmu tafsir Al-Qur'an. Hendaknya mempelajari dengan menghafal kata-katanya, dan memahami maknanya, serta bukti-bukti (dalil-dalilnya). Setiap muslim wajib mengetahui ilmu tafsir dan merupakan keharusan dalam satu wilayah tertentu terdapat orang yang benar-benar ahli dalam ilmu tafsir.

Dengan memahami Al-Qur'an, meskipun secara global, dapat membantu dalam menghayati apa yang terkandung di dalamnya, ketika membacanya. Orang yang tidak memperhatikan hal ini, tidak akan bisa merasakan buah kelezatan Al-Qur'an, bagaikan nasehat dengan janji dan pesannya, ibarat dalam kisah-kisah cerita, dsb.

Adapun manfaat menghayati Al-Qur'an yaitu, untuk mempertebal keimanan, meningkatkan kecintaan kepada Allah, menguatkan keyakinan, sebagai zikir dengan menyebut Nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, serta bukti-bukti keesaan-Nya, serta menangis karena takut akan kebesaran dan keagungan-Nya, sarana menjauhkan diri dari kehidupan yang melalaikan,dan sebagai amal untuk hari keabadian. Allah berfirman,

"Kitab (Al-Qur'an) Kami telah menurunkannya kepadamu penuh berkah agar menghayati ayat-ayatnya dan untuk mengingatkan orang-orang yang berakal." (Sad-38: 29)

"Maka apakah tidak menghayati Al-Qur'an atau hati mereka sudah terkunci? (Muhammad-47: 24)



@Empat Kategori Tafsir

Para Ulama membagi tafsir dalam empat kategori:



Pertama: Apa yang bisa difahami oleh siapapun yang membacanya, baik orang yang berilmu, maupun orang awam. Seperti firman Allah Yang Maha Agung tentang orang munafik:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'janganlah berbuat kerusakan di bumi!' mereka menjawab, 'sesungguhnya kami melakukan perbaikan (pembaharu)'. Perhatikanlah! sungguh merekalah para perusak, akan tetapi tidak merasa." (Al-Baqarah-2: 11-12)

Ayat diatas sangat jelas, dan tidak samar maknanya bagi siapapun. Demikian pula, dalam firman-Nya ini:

"Sungguh beruntung orang-orang beriman. Yang mereka didalam shalat mereka merendahkan hati (khusyu'). (Al-Mu'minun-23: 1-2)

Ayat tersebut juga bisa diketahui dan difahami maknanya oleh siapa saja, baik orang pandai dalam ilmu agama, maupun tidak. Demikian pula misalnya ayat tentang hukum-hukum Allah, kewajiban-kewajiban agama, dan bukti-bukti keesaan. Setiap orang dapat mengerti makna keesaan, dari firman Allah berikut ini:

"Maka ketahuilah bahwa sungguh tidak ada tuhan selain Allah." (Muhammad-47: 19)

Bahwasanya Allah Yang Maha Besar, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan. Lafadz "tidak ada" maknanya secara bahasa sangat jelas, yakni menunjukkan ketiadaan. Sedang "selain" menunjukkan pengecualian. Makna kalimat diatas, akhirnya menyempit, dalam arti bisa difaham siapa saja.

Bahkan orang biasa pun, bisa mengerti dalam firman-Nya berikut ini,

"Mendirikan shalat." (Al-An'am-6: 72)

"Dan tunaikanlah zakat." (Al-Baqarah-2: 43)

"Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah." (Al-Baqarah-2: 185)

"Dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua." (Al-Hajj-22: 29)

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (hari keabadian)." (Al-Hasyr-59: 18)

Jelas sekali, ayat-ayat diatas bermakna "kerjakan", yang berarti kewajiban untuk dilakukan. Demikian pula, dalam firman Allah, Yang Maha Besar, berikut ini:

"Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan...." (An-Nisa'-4: 23)

Tentunya ayat tersebut, bisa dimengerti maknanya, sekalipun bagi orang biasa.



Kedua: Apa yang dapat dimengerti, menurut bahasa orang arab, baik dari susunan kata-katanya, makna-makna, maupun dalil-dalilnya, dimana terkandung kaidah-kaidah nahwu, shorof, bahasa dan balaghoh didalamnya. Karena Al-Qur'an, diturunkan dengan lisan orang arab, maka mereka memahaminya, kecuali adanya ajaran baru, yang datang disertai hadis.

Ketiga: Apa yang bisa difahami, oleh orang yang benar-benar pandai dalam keseluruhan ilmu, dan kaidah-kaidah, dimana membantunya lebih sempurna, untuk memahami Al-Qur'an, berisi kaidah-kaidah ushul dan fiqih.

Keempat: Apa yang hanya diketahui, oleh Allah Yang Maha Agung maknanya, seperti Ilmu rahasia Kitab-Nya, pengetahuan tentang Dzat-Nya, dan kegaiban-Nya, yang kesemuanya itu, dikuncinya sendiri, tidak diketahui siapapun.

Juga seperti beberapa ayat pembuka surat dan ayat tentang sifat-sifat-Nya, yang seringkali menyebabkan kesalahpahaman, menyangka adanya keserupaan (sedang Allah berbeda dari makhluk-Nya), sebagaimana firman Allah berikut ini,

"Yang Maha Pengasih, diatas singgasana menakdirkan." (Taha-20: 5)

Menyikapi ayat ini, kita wajib beriman menurut apa yang dikehendaki Allah, Yang Maha Tinggi, dan tidak mencari-cari bagaimana dan seperti apa sebenarnya. Demikian pula setiap ayat tentang sifat Allah, dalam Al-Qur'an, yang menampakkan keserupaan dengan Makhluk-Nya, seperti: tangan, kanan, kaki, pendengaran, penglihatan, perkataan, sombong, tertawa, senang, marah, dsb. Maka semua keserupaan itu, tidak bisa disimpulkan (ijtihadkan), dan diartikan (ta'wil), kecuali dengan pernyataan yang datang dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tentang ayat tersebut, atau hadis sahih, ataupun kesepakatan para ulama'.



@Perkara-perkara yang tidak boleh dijelaskan, kecuali dengan Hadis Sahih

Kita harus mengetahui, hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur'an, namun tidak boleh menyelami perkataan (kalam) itu, kecuali dengan mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, atau dari sahabat-sahabatnya, yang telah menyaksikan turunnya wahyu. Mereka mengabarkan, apa yang dilihat, dan didengarnya, dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, hingga sampai pada kita sekarang, yang mencakup, sebab-sebab turunnya Al-Qur'an (Asbabun Nuzul), Ilmu penggantian hukum (Nasikh Mansukh), aneka bacaan, ragam bahasa, kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, aneka kejadian di alam semesta, tentang urusan hari keabadian (akhirat), keadaan alam kubur, hari kebangkitan dan penghitungan, surga, neraka, dsb.

Perkara-perkara itu, didasarkan atas mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dan pelaporan yang kuat dan benar. Sangat diharamkan perkataan atau pelaporan, tanpa dasar yang kuat.

@Sumber penafsiran

Sumber penafsiran al-Quran, meliputi tiga hal:



  1. Al-Qur'an yang mulia. inilah sumber paling sah, dan tertinggi. Alangkah indahnya Al-Qur'an, ketika terdapat satu ayat yang samar maknanya, maka menjadi jelas di ayat lainnya. Jika ada kalimat yang kurang bisa dipahami, maka ada kalimat lain yang bisa memahamkannya dalam Al-Qur'an. Begitu juga, hal-hal yang bersifat umum di satu tempat, akan menjadi khusus di tempat yang lain, dsb. Demikianlah Al-Qur'an, menjadi sumber asal tafsir.

Pembahasan terbesar hal tersebut, terdapat di tafsir Ibnu Katsir. Syekh Talidi banyak mencurahkan perhatian pada tafsir Ibnu Katsir. Di masa ini, kitab Syekh Muhammad As-Syinqithi, semoga Allah merahmatinya, berjudul "Adhwa'ul Bayan Fi Idhohil Qur'an Bil Qur'an", berisi pembahasan tafsir yang mengagumkan, terdiri dari sembilan jilid.

  1. Penafsiran rasul. Penafsiran ini memiliki penjelasan yang lebih meluas, dari Al-Qur'an. Berjilid-jilid buku, maupun kitab tentang sunnah kenabian, yang semuanya itu menafsiri dan menjelaskan al-Quran secara global dan rinci. Wajib diketahui, bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, telah menerangkan makna Al-Qur'an kepada para sahabatnya, sebagaimana menjelaskan pada mereka kata-katanya, dan lain sebagainya.

  2. Ucapan para sahabat, semoga Allah meridai mereka, seperti empat khalifah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, Ubay bin Ka'ab, dan lain-lainnya, semoga Allah meridhai mereka, yang telah menyaksikan jalan turunnya wahyu, maka penafsiran mereka, kembali pada dua perkara:

  1. Mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dan yang menyaksikan turunnya wahyu. Mereka juga melihat bukti-bukti (dalil-dalil), karena itu, penafsiran mereka sebaik hadis sahih. Mereka menjadi hujjah (dasar kuat), dalam tafsir.

  2. Mereka yang memahami bahasa Al-Qur'an, dengan mendalam, karena mereka, orang arab asli. Mereka sendiri, adalah hujjah (dasar kuat), dalam tafsir.

@Sejarah Tafsir

Selama masa kenabian, jaman sahabat, dan generasi setelahnya, ilmu tafsir dihafalkan, dan telah melekat didada. Mereka hafal diluar kepala, dan sangat memahaminya, sehingga tidak membukukannya.

Adapun di masa-masa sesudahnya, orang-orang yang pandai dibidang tafsir, banyak yang meninggal dunia, sehingga supaya tidak hilang, dan bisa sampai pada generasi selanjutnya, maka mulai ditulis penafsiran mereka, yang berasal dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, sahabat, dan generasi setelah sahabat.

Ulama'-ulama' besar, yang pertama kali berjasa, mengambil penafsiran mereka yang pandai dibidang tafsir, dan membukukannya, yaitu Abdur Razzaq As-sona'ani, Ibnu Sibeh, Ibnu Jarir At-Tobari dan Ibnu Abi Hotim, serta orang-orang terdahulu yang seperti mereka. Kemudian ada Al-Bagowi, yang menghidupkan sunnah. Dimasa selanjutnya, ada Imam Ibnu Katsir dan As-suyuti.

Selama tiga abad sejak kehadiran Islam, penafsiran yang ada, masih murni dan asli. Ketika ditulis induk sunnah yang besar, dikhususkan sebagian besar bagian-bagiannya, dalam bab-bab tafsir. Penulis-penulis yang terkenal dalam Ilmu Tafsir yaitu, Imam Bukhari, Nasa'i, Tirmidzi, dan lain-lainnya, dimana kitab karya mereka, dikenal dengan "Sembilan Kitab Termasyhur"(pembahasan tafsir, terdapat didalam sebagian isi kitab mereka).

Sedang kitab tafsir yang masyhur lainnya, tidak bersanad, yaitu seperti Tafsir Nasafi, Tafsir Qurtubi, Mafatihul Ghoibi karya Ar-Rozi, Lubabut Ta'wil karya Al-Khozin, Al-Bahr karya Abi Hayan, Ruhul Ma'a>niy karya Alusi, dsb.



@Kitab Tafsir Yang Bagus Dan memadai

Banyak orang yang bertanya, manakah kitab tafsir yang bagus, yang bisa mengantarkan pemahaman kepada firman Allah dengan sempurna.

Jawabannya adalah, bahwa kitab tafsir terbaik, lengkap, dan padat isinya adalah kitab tafsir karya Muhammad bin Jarir At-Tobari, guru para ahli tafsir dimana Imam Nawawi berkomentar tentangnya, "Dalam umat ini, tidak ada yang menyamai kitab tafsirnya."

Imam Suyuthi juga berkomentar, "Dia adalah ahli tafsir yang besar, dan agung." Sebelumnya, Abu Hamid Asfaroyini juga berkomentar, "Andaikan seseorang, sampai harus bepergian, ke negeri Cina, untuk menggapainya, tetap tidak akan bisa sebanding dengannya."

Setelah Ibnu Jarir, ada tafsri Ibn Kathi>r. tafsir ini lebih bagus dari segi pengumpulan hadis, pernyataan sahabat (atsar), dan menunjukkan asal datangnya dari induk hadis, dan pokok-pokoknya, yang berbagai macam, beserta opini, dan ringkasan yang berguna. Banyak yang mengakui, kelebihannya ini, seperti Suyuthi dalam kitabnya, Zarqoni dalam "Syarah Mawahib", dan Ibnu Ja'far Al-Kittani dalam "Risalah Mustatrofah".

Kitab Tafsir Suyuthi "Duru Mantsur" tentang tafsir, dengan pelaporannya, disusun dengan sangat baik, yang seandainya dia tidak meringkas, dan telah menyelesaikannya, niscaya menjadi kitab terbaik di alam. Berikut ini, beberapa kitab tafsir, yang baik dan mencukupi:

1. Tafsir Ibnu Katsir

2. Tafsir Rozi, Mafatihul Ghoib

3. Tafsir Alusi, Ruhul Bayan

4. Tafsir Qurtubi

Kitab-kitab tersebut, merupakan kitab tingkat tinggi, dalam Ilmu Tafsir. Kitab tafsir nomor 1 sampai dengan 3 diatas, sudah sangat mencukupi, untuk dijadikan pegangan, dalam memahami Al-Qur'an, secara lebih mendalam, dari berbagai sisinya.

Adapun kitab ilmu tafsir pertengahan, atau yang lebih rendah tingkatannya, namun cukup juga, untuk dijadikan panduan, dalam menghayati ayat-ayat Al-Qur'an, bisa memakai salah satu, dari kitab-kitab ini: Tafsir Nasafi, Baidowi atau Khozin.

Sedang kitab tafsir, yang ditulis oleh, ulama'-ulama' dimasa sekarang, diantaranya yaitu: Tafsir Sofwatut Tafasir, ataupun Muqtatof Min Uyunit Tafasir. Insya Allah, kitab-kitab ini, dapat mencukupi.

Kitab ilmu tafsir, yang ada di tangan anda sekarang ini, lebih utama, dari kitab-kitab diatas, karena inilah, tafsir Al-Qur'an oleh Nabi, Pujian dan kedamaian kepadanya, lewat hadis-hadisnya yang sahih.



@Ilmu-Ilmu Yang Mendukung, Dalam Memahami Al-Qur'an

Ilmu apakah yang terpenting, supaya bisa memahami Al-Qur'an yang mulia, yang sesuai, dengan standar ukuran manusia? Jawabnya, adalah ilmu-ilmu berikut ini:



Pertama : Ilmu bahasa arab, dengan beragam bidangnya, seperti:

  • Kaidah-kaidah Nahwu, membahas perubahan makna, dari suatu kata

  • Tasrif, membahas perubahan bentuk kata

  • Istiqoq

  • Mengetahui makna-makna kosakata, dalam bahasa arab, baik arti yang sebenarnya, maupun arti kiasan.

  • Ilmu Balaghoh, meliputi: Bayan, Ma'ani, dan Badii'. Ini sangat penting, dalam ilmu tafsir. Yang kesatu, mengetahui kalimat-kalimat khusus, perbedaan-perbedaannya, kejelasan, dan kesamarannya; yang kedua, mengetahui susunan-susunan yang khusus, dalam kaitan pemberian maknanya; yang ketiga, mengetahui ilmu membaguskan kalimat. Inilah ilmu-ilmu pokok yang pertama.

Kedua: Ilm al-Qira>'a>t (versi bacaan al-Quran) baik yang mutawatir, atau a>h}a>d tapi yang s}ah}i>h}. Dengan ilmu ini kita bisa mengetahui manakah bacaan yang paling unggul, disamping ada manfaat yang lain.

Ketiga: Ilmu Asbabun Nuzul, untuk mengetahui makna ayat berdadarkan sebab-sebab diturunkannya. Ini sangat penting, untuk mengerti makna suatu ayat.

Keempat: Mengetahui ilmu penggantian hukum (Nasikh Mansukh), supaya bisa diketahui, kepastian yang harus dikerjakan, dari yang digantikan, atau yang diangkat hukumnya. Para ahli tafsir menyebut, bahwa ayat yang diangkat hukumnya, tidak lebih dari dua puluh ayat.

Kelima : memiliki ilmu yang luas dan mendalam tentang Sunnah Kenabian, yaitu sumber pokok kedua dalam ajaran Islam dan penjelasan Al-Qur'an yang detail dan terperinci.

Sangat disayangkan sekali, karena banyak penafsir yang rabun, dengan mendatangkan hadis lemah, dusta dan ingkar dalam penafsiran mereka, yang mana itu semua diketahui, dikalangan para ulama' ahli hadis. Ini adalah aib besar, terjadi pada orang yang tidak memiliki pemahaman mendalam, di bidang ilmu hadis.



Keenam : Mengerti benar Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin), dan Kaidah-kaidah Keislaman. Memahami apa yang wajib ada pada Allah, dan pada Utusan-utusan-Nya, yang mustahil, maupun yang diperbolehkan, dsb.

Ketujuh: Adanya pengetahuan mendalam, tentang prinsip-prinsip hukum Islam. Supaya mengerti, cara membuat bukti (dalil) dalam hukum, dan memerincinya, sesuai kebutuhan. Ilmu ini sangat penting, dalam hukum-hukum agama Islam.

Siapapun yang menguasai ilmu-ilmu pendukung ini, dengan mudah akan dapat memahami Al-Qur'an, menurut standar ukuran manusia, meski tidak hafal seluruh bagiannya secara mendetail, namun mengerti asas dan pokok, dalam bagian-bagiannya secara umum. Sehingga, jika menemukan suatu permasalahan, segera kembali pada referensi tersebut. Dan perkara itu mudah, bagi siapapun yang dimudahkan Allah, Yang Maha Agung.

Adapun orang yang tidak mampu menguasai, ilmu-ilmu pendukung tersebut, maka hendaknya, kembali pada kitab tafsir pertengahan, untuk membantunya memahami, makna-makna Al-Qur'an, lebih mendetail, sehingga bisa menghayatinya, dan menikmati buahnya. Semoga Allah, Yang Maha Memberi Petunjuk, memberi pertolongan, menuju jalan yang lurus.

@ Tujuan Al-Qur'an yang mulia



Tujuan-tujuan pokok dalam Al-Qur'an, meliputi: Keesaan Allah (tauhid), hukum-hukum, kisah-kisah, akhlak, dan atau sebagaimana, yang tercantum berikut ini:

Pertama: Pengesaan Allah (tauhid), dan undangan untuk, lebih mengenal Allah, Yang Maha Agung. Keimanan dan memberi kesaksian, untuk menyembah-Nya sendirian, dan pelarangan menjadikan sekutu bagi-Nya. Meluber penyebutan ketuhanan Allah, dan pemeliharaan-Nya, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, beserta perincian-perinciannya, yang mana, ini semua khusus terdapat, di surat-surat yang diturunkan di Mekah (Makkiyah).

Kedua : Penjelasan tentang makhluk, dan berbagai inovasi, dalam penciptaannya, yang mana tertuang, di setiap surat, dan bukti-bukti, yang menunjukkan keesaan-Nya, dsb. Serta adanya kehidupan abadi, sesudah kematian.

Ketiga : Perkataan-Nya tentang kematian dan alam kubur; kejadian hari kiamat, dan tanda-tandanya; kebangkitan dari kubur, dan persiapan penghitungan; masa ketika penghitungan; keadaan di hari kiamat; detik-detik penghitungan amal; jembatan yang melintasi neraka, untuk menuju surga (sirath), pembalasan amal; surga neraka, dan sifat-sifatnya; serta kenikmatan, dan siksa ,yang dijanjikan, bagi para penghuninya.

Keempat: Penjelasan jalan yang lurus, yaitu Akidah (keimanan), Islam (meliputi ibadah, dan urusan-urusan sosial keislaman), dan Ihsan (budi pekerti yang luhur, disertai ketulusan hati (ikhlas)); dan kehendak Allah, supaya anak cucu Nabi Adam menerapkannya. Terdapat penyebutan, tingkah laku yang membersihkan jiwa, menerangi hati, dan tentang teguh pendirian (istiqomah), serta keharusan beramal. Disertai juga, penyebutan kebalikannya, yaitu orang-orang yang hina, dan yang menjerumuskan diri dalam kehancuran, mereka tercela dalam agama, dari segi kemanusiaan, dan fitrahnya.

Kelima : Penyebutan segala kenikmatan, yang dianugerahkan Allah, kepada para Utusan (Nabi)-Nya, orang-orang terpercaya, para syuhada' (mereka yang mati membela agama Allah), orang-orang saleh, para ulama' yang mengamalkan ilmunya, orang-orang beriman yang baik, beserta segala sifat, dan keadaan lahir mereka, serta orang-orang, yang didekatkan dengan Allah.

Keenam : Penjelasan kekufuran, orang-orang yang kafir, kesesatan, orang-orang zalim, para pendosa, orang-orang munafik, dan nasib, serta akhir perjalanan mereka, di dunia dan akhirat. Juga keputusan Allah, Yang Maha Agung, atas mereka.

Ketujuh: Terdapat kisah-kisah para Nabi, beserta umat-umat mereka, dan bagaimana Allah, telah memberi mereka pertolongan (kemenangan), dan menghancurkan para penentangnya. Menerangkan juga, hal ihwal dan kegigihan mereka, menghadapi orang-orang yang ingkar. Kisah-kisah tersebut, memenuhi sepertiga dari Al-Qur'an.

Kedelapan: Menerangkan hukum-hukum, dalam ajaran Islam, seperti: ibadah, urusan-urusan sosial keislaman (muamalah), hukum-hukum pidana dan perdata, hukum waris, hubungan perkawinan, jihad, perikehidupan Nabi, urusan politik dan konstitusi keislaman, sistem pemerintahan, dan hubungan internasional keislaman.

Kesembilan: Penyebutan berbagai ilmu pengetahuan, dan aneka peristiwa dimasa lalu, yang tidak kita ketahui sebelumnya, maupun peristiwa, dimasa yang akan datang. Terkandung fakta-fakta ilmiah, yang tidak diketahui manusia, kecuali sebagiannya saja, dan masih terdapat ilmu-ilmu, yang masih belum bisa diungkap manusia.

1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

4. Yang menguasai[4] di hari Pembalasan[5].

5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[7].

6. Tunjukilah[8] Kami jalan yang lurus,

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]


­­­Makna ayat perkata dalam Mukhtas}ar tafsi>r al-T{abariy:

Dengan menyebut nama Allah, aku memulai dan membaca(بِسْمِ اللَّهِ )

Yang Maha Pengasih ( الرَّحْمَنِ )

Yang Maha Penyayang ( الرَّحِيمِ )

Segala pujian itu milik Allah( الْحَمْدُ لِلَّهِ )

Tuhan semesta alam (رَبِّ العَالَمِينَ)

ِ(مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) Lafadz al-din dalam kalimat ini ditakwilkan dengan Hari Perhitungan dan pembalasan amal-amal, yakni hari dibalasnya manusia dengan perhitungan amal-amal

( إِيَّاكَ ) Hanya kepadamu

(نَعْبُدُ) Kami tunduk dan merendahkan diri

(نَسْتَعِينُ)Kami minta pertolongan agar selalu mematuhimu dan pertolongan atas semua urusan-urusan kami

(اهْدِنَا) berikanlah kami taufik dan ilham

(الصِّرَاطَ) Jalan

(المُسْتَقِيمَ) Yang jelas dan tidak ada kelokan/bengkokan. Orang Arab menggunakan lafadz “As-Siro>t}” dalam pengertian semua pekerjaan dan perkataan yang bersifat lurus atau bengkok. Maka diberi sifat Mustaqim (lurus) karena kelurusannya, dan diberi sifat Mu’awwaj (bengkok) karena kebengkokannya.
(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) Mereka adalah para malaikat, nabi, siddiqin (orang-orang yang terpercaya), orang-orang syahid, dan orang-orang yang saleh

(غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) Mereka adalah orang-orang Yahudi

(وَلاَ الضَّالِّينَ) Mereka adalah orang-orang Nasrani

Penafsiran ayat menurut al-Tali>diy

Surat Al-Fatihah yang mulia ini, termasuk diantara surat-surat yang diturunkan di Mekah (Makkiyah). Terdiri dari tujuh ayat. Merupakan miniatur (intisari) dari Al-Qur'an, karena di dalamnya terkandung tujuan-tujuan pokok Al-Qur'an secara global.


Tujuan al-Quran

Al-Quran memiliki tujuan dasar, di antaranya adalah membicarakan tentang tauh}i>d, hukum, kisah-kisah, akhlak, dan secara terperinci telah kami jelaskan dalam kitab "dala>'il al-Tawh}i>d int}ila>qan min al-Qur'a>n wa al-Kauwn" hal 47. Diantara tujuan itu adalah:



Pertama: Keesaan, ajakan untuk mengenal kepada Allah yang mulia dan agung, iman, dan memantapkan keimanan itu untuk menyembah-Nya semata, larangan menyekutukan Allah, dan memperbanyak menyebut-Nya, mengingat ketuhanan-Nya, nama-nama-Nya, dan Sifat-sifat-Nya dengan semua macam-macamnya…terutama pada beberapa surah Makkiyah (surah yang diturunkan di Mekah).
Kedua: Menjelaskan tentang penciptaan alam ini, dan hal itu banyak sekali ditunjukkan di setiap surah, hal itu menunjukkan atas keesaan Allah…dan kebangkitan setelah kematian.
Ketiga: Membahas tentang kematian, kubur, terjadinya hari kiamat dan tanda-tandanya, Kebangkitan (Ba’ts dan Nasyr), tempat kembali, berbagai keadaan di hari kiamat, perhitungan, jembatan, hari pembalasan, surga, neraka beserta sifat-sifat keduanya, dan hal-hal yang Allah persiapkan bagi penghuninya daripada kenikmatan dan azab.
Keempat: Menjelaskan tentang jembatan (al-s}ira>t} al—mustaqi>m) dan jalan Allah yang lurus, menyebutkan tentang akhlak-akhlak luhur yang mendidik jiwa-jiwa, menerangi hati, mengarahkan agar istiqomah serta menyebutkan lawan-lawan akhlak yang rendah dan hina, yang menghina agama, kemanusiaan dan kesucian.
Kelima: Menyebutkan kenikmatan yang diberikan kepada para nabi, Siddiqin (orang-orang yang terpercaya), para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid), orang-orang soleh, orang-orang alim yang mengamalkan ilmunya, orang-orang mukmin yang jujur serta sifat-sifat dan perbuatan mereka yang baik, dan ada orang-orang yang muqorrob (dekat pada Allah).
Keenam: penjelasan tentang kekufuran dan orang-orang kafir, orang-orang durhaka, orang-orang yang zalim, orang-orang yang berdosa, orang-orang munafik. Menerangkan juga tentang tempat mereka kembali dan akibat-akibat bagi mereka di dunia dan di akhirat serta sunnatullah yang mulia dan agung terhadap mereka.
Ketujuh: Menyebutkan kisah-kisah para nabi bersama umat-umat mereka dan bagaimana Allah menolong mereka dan menghancurkan musuh-musuh mereka, menerangkan tentang kesepakatan dan perselisihan mereka…dan kisah-kisah ini menempati sekitar sepertiga Al Qur’an.
Kedelapan: menjelaskan hukum-hukum syariat seperti ibadah, muamalah, kriminal, hukuman-hukuman Allah, warisan, hubungan suami istri, peperangan (jiha>d), perjalanan hidup nabi, masalah politik dan undang-undang, peraturan hukum, dan yang berhubungan dengan pemerintahan….
Kesembilan: menerangkan tentang ilmu-ilmu dan pengetahuan, membicarakan tentang hal-hal gaib yang dulu dan yang akan datang, menerangkan fakta-fakta ilmiah yang tidak memberi petunjuk manusia untuk mengetahuinya kecuali pada saat ini, dan didalamnya terdapat beberapa ilmu, rahasia-rahasia, dan hakikat-hakikat yang manusia tidak mampu menjangkaunya.
Keistimewaan surah Al Fatihah
Tujuan-tujuan tersebut di atas dan dan berbagai jenis dan macamnya, secara global terkandung dalam surah yang mulia ini yakni surah Al Fatihah. Dari sinilah bisa diketahui rahasia kenapa surah al-Fa>tihah juga diberi nama umm al-kita>b, umm al-Qur'a>n (induk al-Quran) yang tidak terdapat pada surah-surah yang lain.
Diantara keistimewaannya adalah bahwa Surah al-Fa>tihah adalah surang yang paling agung dalam Al Qur’an sebagaimana yang akan diterangkan pada surah Al Anfal. Termasuk keistimewaannya pula adalah dicukupkannya solat hanya dengan bacaan surah Al Fatihah menurut semua para imam, dan tidak cukup bacaan yang lain tanpa surah Al Fatihah, kecuali dalam riwayat dari imam Abi Hanifah ra.
Keutamaan surah Al Fatihah

Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi saw, bersabda: “Barangsiapa yang sholat dan tidak membaca surah Al Fatihah maka sholat itu menjadi kurang sempurna – perkataan ini diulang oleh Rasulullah sampai tiga kali, ada yang bertanya kepada Abu Hurairah: kita berada di belakang imam, maka berkata, “Bacalah surah Al Fatihah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “Aku membagi solat menjadi dua antara aku dan hambaku, dan untuk hambaku apa yang telah dia minta, apabila seorang hamba berkata “الحمد لله رب العالمين” Allah menjawab, “Hambaku telah memujiku” dan apabila seorang hamba berkata “الرحن الرحيم” Allah menjawab, “Hambaku telah memujiku” dan apabila seorang hamba berkata, “ملك يوم الدين” Allah menjawab, “Hambaku telah memuliakanku dan kadang menjawab, “Hambaku telah menyerahkan (hidupnya) kepadaku” dan apabila berkata, “اياك نعبد واياك نستعين” Allah menjawab, “Ini antara aku dan hambaku dan baginya apa yang dia minta”. Apabila seorang hamba berkata, “اهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضاليم . Allah menjawab, “Ini untuk hambaku dan untuknya apa yang dia minta”. (HR Imam Ah}mad dan Muslim dalam bab “Solat”, Abu Daud dan Tirmidzi dalam bab Keutamaan Qur’an, Nisa’i dalam kitab “Al Kubro” dan kitab Mujtaba dan imam Ibnu Majah dalam bab “Solat)


Firman Allah “غير المغضوب عليهم ولا الضالين”

Dari Addiy bin H}a>tim semoga Allah meridhainya, bahwasanya Nabi bersabda, “Orang yang dimurkai adalah orang Yahudi dan orang yang tersesat adalah orang Nasrani.(HR. imam Tirmidzi, Ibn Jarir, Ibn Hibban, dsb.) &

Dan dalam hadis yang mulia terdapat penafsiran dan penjelasan terhadap ayat-ayat yang samar, dari lafadz “المغضوب عليهم ولا الضاليم”. Orang yahudi itu dimurkai karena mereka mengetahui kebenaran tapi mereka menyembunyikannya. Terkait dengan hal ini, telah turun pada mereka firman Allah “Orang-orang yang telah Allah laknat dan murkai”. Adapun orang Nasrani telah tersesat sebab kebodohan mereka dan keikutsertaan mereka terhadap pendeta-pendeta mereka. Dan telah turun pada mereka firman Allah “Sungguh mereka telah tersesat dan menyesatkan.” inilah tafsir yang disepakati oleh para ahli tafsir.
Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna kebaikan-kebaikan dan semoga Allah mencurahkan solawat, salam dan keberkahan pada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, istri, Sahabat, kelompoknya selamanya.

  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   16


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©kagiz.org 2016
rəhbərliyinə müraciət